Minggu, 15 Mei 2011

IKHWAN…


Ikhwan….oh…. ikhwan
walopun gk begitu rupawan
alias modal tampang pas-pasan
tapi, tetep aza tebar senyuman

oh….ikhwan….
Gayanya sih bisa ditebak dan keliatan
jenggot melambai, baju koko ‘n celana goyang murahan
sesekali komat-kamit sambil jalan ( maksoed’a zikir )

oh…ikhwan…..
Nyarinya susah-susah gampang
kadang di masjid,mushola, kampus or sekolahan
mungkin juga lagi nyari sampingan
buat biaya walimahan ( he…he..he….21x )

oh…ikhwan…
anehnya kalo lagi jalan
ngukurin tanah apa nyari’ koin wan ???
ooo….ternyata jaga pandangan….

ikhwan….ikhwan…..
lucunya kalo akhwat sedang berpapasan
langsung minggir, acuh tak acuh kayak musuhan
( gubrak…!!! ) appan tuh wan ??
eh..eh.. ternyata dia jatuh,, kagak liat ada selokan !

oh…….ikhwan
apa semuanya begitu wan..???
ada gak sih ikhwan yang jelalatan…???
boleh gak sih “Tepe-Tepe” ke akhwat wan ???
kan dah dibilang murabbi dalam liqo’an !!

Yang bukan ikhwan,,pasti kagak ditunggu malaikat ridwan
yang bukan ikhwan gampang bgt didapatkan
tapi,,kalo ikhwan,,,yang tebal iman,,,dicari butuh tantangan..
karena ikhwan,, nggak doyan perempuan
melainkan lebih milih akhwat sebagai pasangan,,,

Sabtu, 14 Mei 2011

essay cerpen

Ande-Ande Lumut – Ironi Kehidupan
Ande- ande lumut adalah cerita rakyat yang berasal dari daerah jawa. Cerita ini memiliki banyak versi, namun inti dari cerita ini tetap satu, yaitu menceritakan tentang seorang pangeran yang mencari istri dengan mengembara. Sampai suatu hari ia bertemu dengan klenting bersaudara, yaitu klenting biru, klenting merah, klenting hijau, dan klenting kuning (dalam versi lain ada yang menyebutkan juga klenting ungu). Sang pangeran akhirnya memilih klenting kuning sebagai istrinya, walaupun wajah dan fisik klenting kuning kalah dari ketiga saudaranya, tetepi kleting kuning lebih jujur dan ia tidak seperti ketiga saudaranya yang telah menjadi korban dari yuyu kangkang (tokoh kepiting) yang meminta imbalan untuk memegang tangan klenting-klenting cantik saat diminta tolong untuk menyebrang sungai (cerita lain menyebutkan klenting harus mencuim yuyu kangkang) untuk menemui pangeran. Namun akhirnya yuyu kangkang mati oleh kesaktian klenting kuning yang membuat sungai tempat ia hidup kering, dan menggunakannya untuk menyebrang menemui pangeran.
Nah, dari cerita Ande-Ande Lumut ini, kita dapat mengambil nilai-nilai positif dalam kehidupan. Misalnya seperti apa yang dialami klenting kuning, yang menunjukan bahwa penampilan fisik bukanlah segalanya. Atau kalau kita refleksikan kedalam kehidupan nyata, misalnya kisah hidup seorang Albert Einstein. Beliau adalah orang penting dalam bidang kemajuan pendidikan dunia. Sudah banyak prestasi-prestasi yang beliau ukir dalam sejarah hidupnya. Mulai dari penemuan-penemuan kecil hingga yang mendunia, sampai perolehan nobel di tahun 1921 untuk penjelasannya tentang efek fotoelektrik dan "pengabdiannya bagi Fisika Teoretis" yang mulai mengangkat dirinya di sisi paling istimewa di bidang pendidikan dunia. Tapi, siapa yang tahu kalau seorang Albert Einstein kecil adalah orang yang dianggap bodoh, bahkan oleh gurunya sendiri. Beliau dianggap sebagai pelajar yang lambat, kemungkinan disebabkan oleh dyslexia, sifat pemalu, atau karena struktur yang jarang dan tidak biasa pada otaknya. Bahkan Einstein dianggap aneh oleh beberapa temannya sehingga ia dijauhi. Tapi Einstein kecil tidak pernah menyerah, ia terus berusaha hingga apa yang ia inginkan benar-benar tercapai.
Sementara kisah lain yang juga dapat dijadikan refleksi adalah kisah dari saudara klenting kuning, dimana mereka justru tidak beruntung karena penampilan fisik mereka yang mereka bangga-banggakan. Nah, jika kisah ini kita refleksikan ke dalam kehidupan sehari-hari atau kehidupan sekarang ini, misalnya seperti kasus Ariel ‘Peterpan’. Siapa yang tidak kenal Ariel? Vokalis band ternama di negeri ini memang tidak diragukan lagi loyalitasnya di dunia hiburan khususnya bidang musik. Tapi, apa yang terjadi beberapa waktu lalu telah menodai karir keartisannya. Kasus menyebarnya video porno dengan pelaku yang diduga ‘mirip’ Ariel Peterpan dengan seorang gadis yang juga diduga ‘mirip’ dengan Luna Maya ini telah merusak nama baik yang telah ia bangun dengan susah payah. Kasus ini juga yang telah menyeretnya ke meja hijau dan harus menjalani masa tahanan selama beberapa bulan.
Sebenarnya masih banyk pembelajaran yang kita dapat dari cerita rakyat Ande-Ande Lumut ini selain yang telah diuraikan diatas. Misalnya pesan yang disampaikan melelui tokoh yuyu kangkang yaitu, menolong seseorang harus ikhlas. Tapi, uraian diatas mungkin cukup menggambarkan ironisnya kehidupan di dunia ini. Seseorang yang secara fisik tidak kita anggap sempurna malah dapat menghasilkan sesuatu yang belum tentu orang lain dapat melakukannya. Sementara, orang yang penampilan fisik atau luarnya menarik belum tentu kehidupannya se-menarik fisiknya. Untuk itu, jaganlah menilai seseorang hanya dari apa yang terlihat diluar saja, tapi cobalah untuk melihat segalanya dari hati, karena mata itu dapat buta, tetapi hati tidak.

Rabu, 11 Mei 2011

Pagi Pembuka Hatiku


 Matahari pagi masih malu-malu untuk menyingsingkan cahayanya. Embun pagi dan dinginnya udara semakin membuat orang-orang ogah untuk beranjak dari tempat tidurnya dan kembali menarik selimut-selimut mereka. Apalagi ini adalah Hari Minggu. Tapi keadaan ini sungguh kontras dengan apa yang terlihat di sebuah rumah sederhana yang bersebelahan langsung dengan sawah itu. Yah, disaat semua orang masih asik menikmati mimpi-mimpi mereka, aku, harus berperang dengan udara dingin yang menusuk tulang dan gelapnya pagi yang menyelimuti.
“Dek, nasinya sudah dimasak belum?” hampir setiap hari kalimat itulah yang terucap dari bibir ibuku. Dan akupun selalu menjawab “Iya, sebentar buk.” Begitupun pagi ini. Disaat mungkin anak-anak seusiaku bangunpun masih malas apalagi untuk membantu pekerjaan seorang ibu. Tetapi bagaimanapun, aku tetap harus menerjakan pekerjaan ini, karna aku tahu kini ibuku tak sekuat dulu lagi.
Kuambil beberapa takar beras menggunakan bekas kaleng susu, tiba-tiba saja ingatanku melayang kemasa setahun silam. Dimana saat itulah yang telah merubah kehidupanku, menjadi seperti ini. Aku masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana peristiwa yang tak pernah kusangka itu benar-benar terjadi kepadaku. Peristiwa yang hampir merenggut nyawaku dan ibuku.

Pagi itu, tanggal 30 Oktober 2009, pagi yang agak terasa sejuk untuk ukuran normal di Indonesia yang beriklim tropis. Dan hari itu adalah hari pertama aku kembali kesekolah setelah dua minggu penuh libur Idul Fitri. Hari itu memang aku merasa sangat bersemangat untuk kembali ke sekolah. Sampai-sampai bangunpun tanpa harus dipaksa-paksa oleh ibuku , bahkan lebih cepat dari biasanya aku bangun yaitu jam 06.00.
Yah, seperti biasanya, aku sholat, mandi, sarapan dan langsung berangkat.
“Mas, ayo berangkat.” Ajakku sambil menepuk-nepuk bahu kakakku, berusaha membangunkannya. Bukannya kakaku juga satu sekolah denganku, tapi dialah yang selalu mengantarku kalau aku berangkat sekolah. Kakaku masih tak bergerak, malah kembali menarik selimutnya. Ya, maklumlah, pagi itu memang benar-benar membuat orang malas untuk beraktifitas.
Aku masih mencoba untuk membangunkan kakakku.
“Mas, cepet.” Aku agak memaksa.
Akhirnya kakakku menyerah juga, dibukanya dengan perlahan kedua katup matanya yang terlihat begitu berat.
“Ahh, suruh ibuk aja yang nganter, aku capek, ngantuk” jawab kakakku seolah tak peduli. Mendengar jawaban yang tak ku harapkan, aku segera meninggalkan kamar kakaku dan segera kedapur menghampiri ibuku yang sedang mencuci piring.
“Buk, ayo anterin adek kesekolah.” pintaku dengan manja.
“Loh, lha mas mu itu ngapain?” tanya ibuku.
“Tau tu, nggak mau bangun.” kataku.
“Yasudah, bentar, ibu beres-beres dulu.” jawab ibuku sambil mengelap tangannya.
Akupun bersiap berangkat, sementara jam sudah menunjukkan pukul 06.35. Sebelum berangkat, aku memang sempat merasa tak biasa, aku merasa ada yang aneh. Tapi, aku segera menghilangkan perasaan dan pikiran buruk itu.
Dan benar, sekitar lima menit setelah motor dijalankan, tabrakan keras dengan motor dari arah berlawanan itu tak terelakan lagi. Seketika itu mataku tak dapat menangkap apa yang ada di depanku. Aku tak sadrkan diri, dalam beberapa detik. Dan setelah aku dapat membuka mataku, aku telah mendapati tubuhku tergeletak di jalan beraspal itu. Aku merasakan sakit di beberapa bagian tubuhku. Dan samar-samar mendengar suara tangisan seorang anak kecil. Aku berusaha untuk bangun, tapi, sebelum aku berhasil mengangkat tubuhku, aku telah diangkat oleh seorang mas-mas yang tampaknya seorang mahasiswa. Aku dibawa menepi olehnya. Kulepas helm yang masih menutupi kepalaku. Aku berusaha mencari-cari sumber rasa sakitku. Alhamdulilah hanya beeberapa luka di kaki dan tanganku. Seketika itu pun aku teringat ibuku. Mataku berusaha mencari-cari ibuku. Tapi aku tak bisa melihatnya, sepertinya dia tertutup kerumunan orang-orang itu. Aku pun bertanya kepasa mas-mas yang tadi menolongku.
“Mas, ibu saya dimana?” tanyaku sambil menahan rasa sakit.
Mas-mas itu menjawab “Itu disana dek,” katanya sambil menunjuk kerumunan orang-orang yang beberapa darinya sudah mulai pergi. “Ibumu baru ditolong. Tenang ya dek.” Kata mas-mas itu menenangkan melihatku mulai meneteskan air mata.
Sementara sebuah mobil sedan yang aku kenali berhenti di dekat kerumunan tadi. Dan seseorang yang kukenal keluar dari dalam mobil itu, dialah pakde ku. Aku melihat ibuku masuk mobil sedan itu dibantu beberapa orang. Begitu juga denganku. Kami segera dibawa kerumah sakit.
Didalam mobil, airmataku semakin deras memetesi pipiku setelah aku melihat keadaan ibuku. Aku melihat ibuku memejamkan mata dan terus memegang tangannya seakan menahan rasa sakit. Di bagian kaki kirinya tampak balutan kain putih lusuh bercampurkan warna merah darah yang tampak semakin meluas. Akupun mencoba berbicara dengannya.
“Bu.” Kataku lirih.
Ibuku membuka matanya perlahan, seakan baru menyadari kehadiranku. “Kamu baik-baik saja?” tanya ibuku.
“Aku nggak kenapa-napa kok bu. Tangan dan kaki ibu kenapa?” tanyaku
“Nggak papa kok, Cuma luka dan terkilir biasa.” Kata ibuku menenangkan.
Aku tahu ibuku berbohong, tapi aku hanya bisa berdoa agar semua baik-naik saja.
Sampai dirumah sakit, aku melihat kakak dan ayahku sudah menunggu disana. Aku dan ibuku segera dibawa ke ruang UGD. Suster yng bertugas segera mengobati lukaku. Dan seorang dokter tampak memeriksa tangan ibuku, sementara seorang membuka balutan kain putih yang menutupi kaki ibuku. Samar-samar kudengar salah seorang dari mereka berkata bahwa ibuku mengalami patah tulang lengan. Dan ada dua opsi penyembuhan yang bisa ditempuh, yaitu operasi dengan resiko yang lebih berbahaya, atau hanya di gips dengan wajib control seminggu sekali, dan tentu keadaan tak akan kembali 100% seperti semula. Akhirnya ibuku memilih di gips daripada operasi yang tentu memerlukan biaya yang lebih mahal.
Selama kurang lebih dua bulan, ibuku harus menggendong tangan dan balutan keras gipsnya, yang membuatnya tak bisa melakukan kegiatan seperti selayaknya orang normal.
Dan akibat peristiwa ini, akulah yang harus menggantikan peran ibuku di keluarga. Memasak, mencuci, menyapu, dan pekerjaan yang lainnya yang hampir tak pernah kusentuh.
Mungkin hal ini tak begitu bermasalah untuk anak yang sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah. Tapi bagiku, pekerjaan ini sangatlah berat, mengingat aku adalah anak manja yang tak pernah mau menyentuh pekerjaan-pekerjaan rumah yang kuanggap kotor itu. Dan kini aku harus berusaha membiasakan mengerjakan semua itu.

“Dek, nasinya itu sudah matang?” tiba-tiba suara ibuku membuyarkan memory masa lalu itu.
“Hah? Oh iya bu.” aku segera mematikan kompor dan memindahkan nasinya ke dalam bakul. Kutatap wajah ibuku yang tampak letih itu dengan dalam. Dan dari itu, aku merasa sangat-sangat bersyukur karena masih bisa melihat wajah dan senyum ibuku setiap hari. Masih bisa merasakan kasih sayangnya yang begitu mendalam. Aku tak tahu apa jadinya jika tak ada ibu disampingku.
Kecelakaan setahun lalu itu memang telah berhasil merubah kehidupanku. Mengingat dulu aku benar-benar anak manja yang tak bisa apa-apa. Kini perubahan positif itu benar-benar kurasakan. Karena sekarang, aku menjadi lebih dewasa dan lebih bisa bersyukur dengan apa yang aku miliki.


Selasa, 10 Mei 2011

perang pemikiran


Seorang wanita berjilbab rapi tampak sedang bersemangat mengajarkan sesuatu kepada murid-muridnya. Ia duduk menghadap murid-muridnya.
Di tangan kirinya ada kapur,  di tangan kanannya ada penghapus.
Sang guru berkata, ” Saya punya permainan. Caranya begini, di tangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada penghapus. Jika saya angkat kapur ini, maka berserulah ” Kapur”!, jika saya angkat penghapus ini, maka berserulah “Penghapus”!. Murid-muridnya pun mengangguk tanda mengerti dan kemudian mengikuti. Sang guru berganti-gantian mengangkat tangan antara kiri dan kanan, semakin lama semakin cepat.
Beberapa saat kemudian, sang guru kembali berkata, ” Baik, sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur, maka berserulah “Penghapus!”, jika saya angkat penghapus, maka katakanlah, “Kapur!”. Dan dijalankanlah adegan seperti tadi, namun tentu saja murid-muridnya kerepotan dan kelabakan dan sangat sulit untuk merubahnya.
Tapi, lambat laun mereka bisa beradaptasi dan tidak lagi terasa sulit. Selang beberapa saat permainan terhenti. Sang guru tersenyum pada murid-muridnya.
” Anak-anak, begitulah kondisi kita umat Islam. Mulanya yang haq itu haq, dan bathil itu bathil. Kita begitu jelas membedakannya. Namun kemudian, musuh-musuh kita memaksakan kepada kita lewat berbagai cara untuk membalik sesuatu, dari yang haq menjadi bathil dan sebaliknya.
Pertama-tama mungkin akan sulit bagi kita untuk menerima hal tersebut, tapi karena terus menerus disosialisasikan melalui pelbagai cara yang menarik, akhirnya lambat laun kalian akan terbiasa dengan hal itu. Dan kalian mulai mengikutinya. Musuh-musuh kalian tidak akan pernah berhenti membalik nilai.
“Pacaran tidak lagi dianggap sesuatu yang tabu, selingkuh dan zinah tidak lagi jadi persoalan, pakaian mini menjadi hal yang lumrah, sex before married menjadi suatu hiburan, materialis, hedonis dan permisif menjadi gaya hidup pilihan, dan sebagainya…”
— Yap, kita lihat dua fenomena sekarang. Ramai diberitakan seorang ustadz terkenal berpoligami dan di saat yang sama ramai pula diperbincangkan seorang anggota dewan yang terhormat terlibat kasus perzinahan dan perselingkuhan. Coba bertanyalah pada diri sendiri, mana yang mengundang reaksi lebih keras ? masyaAllah, tidak dapat disangkal bahwa seorang ustadz yang nyata-nyata menggunakan cara yang halal dan sah untuk berpoligami lebih hebat reaksinya. Bandingkan dengan kasus anggota DPR, hanya beberapa kelompok umat yang dengan dada teriris dan hati pilu menyaksikan kebobrokan mental tersebut. Bahkan sebagian lainnya menganggap, kasus itu sudah biasa dan lazom terjadi dalam dunia politik. Astaghfirullah. Sungguh sangat memprihatinkan menyaksikan dua fakta yang terjadi di masyarakat sekarang ini. Hukum Allah dihujat sementara jalan-jalan setan semakin mendapat tempat dan bebas melenggang…belum lagi hampir setiap hari masyarakat di nina bobokan dengan sajian informasi infotainment yang sarat dengan ghibah dan sinetron yang penuh dengan budaya permisif, hedonis dan materialis. Jika demikian akan dikemanakan generasi muda kita ? —
Kemudian sang guru berkata, ” Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa kita sadari, kalian semua sedikit demi sedikit menerimanya. “
” Baik, sekarang permainan kedua…” ia melanjutkan. Bu Guru punya Qur’an, Ibu letakkan di tengah karpet. Nah, sekarang kalian berdiri diluar karpet. Permainannya adalah, bagaimana caranya mengambil Qur’an yang ada di tengah tanpa menginjak karpet ? ” Wah, cukup sulit nih, pikir para murid. Mereka berpikir keras. Ada yang punya alternatif jawaban dengan menggunakan tongkat, dll.
Akhirnya sang guru memberikan jalan keluar, ia gulung karpetnya dan ia ambil Qur’annya. Ia memenuhi syarat, tidak menginjak karpet. Kemudian ia menjelaskan,
” Anak-anak, begitulah kondisi umat Islam dan musuh-musuhnya. Musuh-musuh Islam tidak akan menginjak kalian dengan terang-terangan, karena tentu kalian akan menolaknya dengan mentah-mentah. Seorang preman pun tidak akan rela jika Islam dihina di hadapan mereka. Tapi mereka akan menggulung kalian perlahan-lahan ke pinggir, sehingga kalian tidak sadar.”
” Jika seseorang ingin membangun rumah yang kuat, maka dibangunnyalah pondasi yang kuat. Begitulah Islam, jika ingin kuat maka bangunlah aqidah yang kuat. Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau membongkar pondasinya dulu, tentu saja hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dulu, kursi dipindahkan dulu, lemari disingkirkan dulu, satu per satu dipindahkan, baru kemudian rumah dihancurkan…”
Yap, begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kita. Ia tidak akan menghantam dengan terang-terangan, tapi secara perlahan-lahan mencopot kalian. Mulai dari perangai kalian, cara hidup, tingkah laku, model pakaian, dsb, sehingga meskipun kalian muslim tapi kalian telah meninggalkan ajaran Islam dan mengikuti cara yang mereka inginkan…
Itulah fenomena Ghozwul Fikri ( perang pemikiran ) yang terus berlangsung hingga saat ini. Inilah yang dijalankan musuh-musuh Islam…
– Subhanallah, jelas sekali tampak perang pemikiran itu berlangsung hingga detik ini. Bahkan pertarungan itupun sudah merambah hingga ke sendi-sendi mendasar kehidupan sosial institusi masyarakat kita. Dari mulai yang terkecil yakni keluarga hingga ke tatanan negara. —