Matahari pagi masih malu-malu untuk menyingsingkan cahayanya. Embun pagi dan dinginnya udara semakin membuat orang-orang ogah untuk beranjak dari tempat tidurnya dan kembali menarik selimut-selimut mereka. Apalagi ini adalah Hari Minggu. Tapi keadaan ini sungguh kontras dengan apa yang terlihat di sebuah rumah sederhana yang bersebelahan langsung dengan sawah itu. Yah, disaat semua orang masih asik menikmati mimpi-mimpi mereka, aku, harus berperang dengan udara dingin yang menusuk tulang dan gelapnya pagi yang menyelimuti.“Dek, nasinya sudah dimasak belum?” hampir setiap hari kalimat itulah yang terucap dari bibir ibuku. Dan akupun selalu menjawab “Iya, sebentar buk.” Begitupun pagi ini. Disaat mungkin anak-anak seusiaku bangunpun masih malas apalagi untuk membantu pekerjaan seorang ibu. Tetapi bagaimanapun, aku tetap harus menerjakan pekerjaan ini, karna aku tahu kini ibuku tak sekuat dulu lagi.Kuambil beberapa takar beras menggunakan bekas kaleng susu, tiba-tiba saja ingatanku melayang kemasa setahun silam. Dimana saat itulah yang telah merubah kehidupanku, menjadi seperti ini. Aku masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana peristiwa yang tak pernah kusangka itu benar-benar terjadi kepadaku. Peristiwa yang hampir merenggut nyawaku dan ibuku.
Pagi itu, tanggal 30 Oktober 2009, pagi yang agak terasa sejuk untuk ukuran normal di Indonesia yang beriklim tropis. Dan hari itu adalah hari pertama aku kembali kesekolah setelah dua minggu penuh libur Idul Fitri. Hari itu memang aku merasa sangat bersemangat untuk kembali ke sekolah. Sampai-sampai bangunpun tanpa harus dipaksa-paksa oleh ibuku , bahkan lebih cepat dari biasanya aku bangun yaitu jam 06.00.Yah, seperti biasanya, aku sholat, mandi, sarapan dan langsung berangkat.“Mas, ayo berangkat.” Ajakku sambil menepuk-nepuk bahu kakakku, berusaha membangunkannya. Bukannya kakaku juga satu sekolah denganku, tapi dialah yang selalu mengantarku kalau aku berangkat sekolah. Kakaku masih tak bergerak, malah kembali menarik selimutnya. Ya, maklumlah, pagi itu memang benar-benar membuat orang malas untuk beraktifitas.Aku masih mencoba untuk membangunkan kakakku.“Mas, cepet.” Aku agak memaksa.Akhirnya kakakku menyerah juga, dibukanya dengan perlahan kedua katup matanya yang terlihat begitu berat.“Ahh, suruh ibuk aja yang nganter, aku capek, ngantuk” jawab kakakku seolah tak peduli. Mendengar jawaban yang tak ku harapkan, aku segera meninggalkan kamar kakaku dan segera kedapur menghampiri ibuku yang sedang mencuci piring.“Buk, ayo anterin adek kesekolah.” pintaku dengan manja.“Loh, lha mas mu itu ngapain?” tanya ibuku.“Tau tu, nggak mau bangun.” kataku.“Yasudah, bentar, ibu beres-beres dulu.” jawab ibuku sambil mengelap tangannya.Akupun bersiap berangkat, sementara jam sudah menunjukkan pukul 06.35. Sebelum berangkat, aku memang sempat merasa tak biasa, aku merasa ada yang aneh. Tapi, aku segera menghilangkan perasaan dan pikiran buruk itu.Dan benar, sekitar lima menit setelah motor dijalankan, tabrakan keras dengan motor dari arah berlawanan itu tak terelakan lagi. Seketika itu mataku tak dapat menangkap apa yang ada di depanku. Aku tak sadrkan diri, dalam beberapa detik. Dan setelah aku dapat membuka mataku, aku telah mendapati tubuhku tergeletak di jalan beraspal itu. Aku merasakan sakit di beberapa bagian tubuhku. Dan samar-samar mendengar suara tangisan seorang anak kecil. Aku berusaha untuk bangun, tapi, sebelum aku berhasil mengangkat tubuhku, aku telah diangkat oleh seorang mas-mas yang tampaknya seorang mahasiswa. Aku dibawa menepi olehnya. Kulepas helm yang masih menutupi kepalaku. Aku berusaha mencari-cari sumber rasa sakitku. Alhamdulilah hanya beeberapa luka di kaki dan tanganku. Seketika itu pun aku teringat ibuku. Mataku berusaha mencari-cari ibuku. Tapi aku tak bisa melihatnya, sepertinya dia tertutup kerumunan orang-orang itu. Aku pun bertanya kepasa mas-mas yang tadi menolongku.“Mas, ibu saya dimana?” tanyaku sambil menahan rasa sakit.Mas-mas itu menjawab “Itu disana dek,” katanya sambil menunjuk kerumunan orang-orang yang beberapa darinya sudah mulai pergi. “Ibumu baru ditolong. Tenang ya dek.” Kata mas-mas itu menenangkan melihatku mulai meneteskan air mata.Sementara sebuah mobil sedan yang aku kenali berhenti di dekat kerumunan tadi. Dan seseorang yang kukenal keluar dari dalam mobil itu, dialah pakde ku. Aku melihat ibuku masuk mobil sedan itu dibantu beberapa orang. Begitu juga denganku. Kami segera dibawa kerumah sakit.Didalam mobil, airmataku semakin deras memetesi pipiku setelah aku melihat keadaan ibuku. Aku melihat ibuku memejamkan mata dan terus memegang tangannya seakan menahan rasa sakit. Di bagian kaki kirinya tampak balutan kain putih lusuh bercampurkan warna merah darah yang tampak semakin meluas. Akupun mencoba berbicara dengannya.“Bu.” Kataku lirih.Ibuku membuka matanya perlahan, seakan baru menyadari kehadiranku. “Kamu baik-baik saja?” tanya ibuku.“Aku nggak kenapa-napa kok bu. Tangan dan kaki ibu kenapa?” tanyaku“Nggak papa kok, Cuma luka dan terkilir biasa.” Kata ibuku menenangkan.Aku tahu ibuku berbohong, tapi aku hanya bisa berdoa agar semua baik-naik saja.Sampai dirumah sakit, aku melihat kakak dan ayahku sudah menunggu disana. Aku dan ibuku segera dibawa ke ruang UGD. Suster yng bertugas segera mengobati lukaku. Dan seorang dokter tampak memeriksa tangan ibuku, sementara seorang membuka balutan kain putih yang menutupi kaki ibuku. Samar-samar kudengar salah seorang dari mereka berkata bahwa ibuku mengalami patah tulang lengan. Dan ada dua opsi penyembuhan yang bisa ditempuh, yaitu operasi dengan resiko yang lebih berbahaya, atau hanya di gips dengan wajib control seminggu sekali, dan tentu keadaan tak akan kembali 100% seperti semula. Akhirnya ibuku memilih di gips daripada operasi yang tentu memerlukan biaya yang lebih mahal.Selama kurang lebih dua bulan, ibuku harus menggendong tangan dan balutan keras gipsnya, yang membuatnya tak bisa melakukan kegiatan seperti selayaknya orang normal.Dan akibat peristiwa ini, akulah yang harus menggantikan peran ibuku di keluarga. Memasak, mencuci, menyapu, dan pekerjaan yang lainnya yang hampir tak pernah kusentuh.Mungkin hal ini tak begitu bermasalah untuk anak yang sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah. Tapi bagiku, pekerjaan ini sangatlah berat, mengingat aku adalah anak manja yang tak pernah mau menyentuh pekerjaan-pekerjaan rumah yang kuanggap kotor itu. Dan kini aku harus berusaha membiasakan mengerjakan semua itu.
“Dek, nasinya itu sudah matang?” tiba-tiba suara ibuku membuyarkan memory masa lalu itu.“Hah? Oh iya bu.” aku segera mematikan kompor dan memindahkan nasinya ke dalam bakul. Kutatap wajah ibuku yang tampak letih itu dengan dalam. Dan dari itu, aku merasa sangat-sangat bersyukur karena masih bisa melihat wajah dan senyum ibuku setiap hari. Masih bisa merasakan kasih sayangnya yang begitu mendalam. Aku tak tahu apa jadinya jika tak ada ibu disampingku.Kecelakaan setahun lalu itu memang telah berhasil merubah kehidupanku. Mengingat dulu aku benar-benar anak manja yang tak bisa apa-apa. Kini perubahan positif itu benar-benar kurasakan. Karena sekarang, aku menjadi lebih dewasa dan lebih bisa bersyukur dengan apa yang aku miliki.
Rabu, 11 Mei 2011
Pagi Pembuka Hatiku
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar